Kamis, 16 April 2026

Ketua Ombudsman Diduga Terima Suap Rp1,5 Miliar dalam Kasus Korupsi Tata Kelola Nikel



Opini Rakyat - Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto (HS) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola pertambangan nikel tahun 2013-2025. Hery diduga menerima uang suap sebesar Rp1,5 miliar.

“Tersangka ini menerima sejumlah uang dari Saudara LKM yang merupakan Direktur PT TSHI, kurang lebih yang sudah diserahkan dari satu orang ini adalah Rp1,5 miliar rupiah,” kata Dirdik Jampidsus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi dalam konferensi pers, Kamis (16/4/2026).


Ia menjelaskan, Hery diduga mengurus masalah perhitungan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari PT TSHI. Dia menuturkan, PT TSHI meminta Hery untuk mengatur agar Ombudsman mengoreksi perhitungan PNBP.

“Kemudian bersama-sama dengan Saudara HS ini untuk mengatur, sehingga surat atau kebijakan yang dilakukan oleh Kemenhut itu dikoreksi oleh Ombudsman, dengan perintah agar PT TSHI melakukan penghitungan sendiri terkait beban yang harus dibayar,” ungkapnya.


Atas perbuatan tersebut, Hery dijerat Pasal 12 huruf a, 12 huruf b, Pasal 5, dan Pasal 606 KUHP. Ia juga langsung ditahan di Rutan Salemba cabang Kejari Jaksel selama 20 hari ke depan.

Sebelumnya, berdasarkan pantauan di lokasi, Hery terlihat keluar dari gedung Bundar Jampidsus Kejagung dengan memakai kaos berlogo PLN dibalut rompi tahanan khas Kejaksaan. Sambil diborgol, ia digiring ke mobil tahanan pada pukul 11.19 WIB

Sumber: iNews 

Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Resmi Tersangka Korupsi Nikel Langsung Dibui



Opini Rakyat - Aparat Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Hery Susanto sebagai tersangka kasus korupsi pada Kamis 16 April 2026.

Hery tersandung kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan tata kelola niaga pertambangan nikel tahun 2013-2025.

Dari pantauan, Hery terlihat keluar dari Gedung Pidana Khusus Kejagung dengan rompi tahanan warna pink dan dikawal oleh dua penyidik sekitar pukul 11.20 WIB.




Hery tampak tertunduk lesu dan tanpa ekspresi saat digiring ke mobil tahanan berwarna hijau.

Penetapan tersangka terhadap Hery cukup mengagetkan. 

Pasalnya, Hery pada Jumat 10 April 2026 baru dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara sebagai Ketua Ombudsman RI periode 2026-2031

Sumber: RMOL 

Kondisi Keluarga Almarhumah Julia Perez Terpuruk, Terpaksa Jual Apartemen Demi Bertahan Hidup



Opini Rakyat - – Kondisi keuangan keluarga mendiang Julia Perez atau Jupe dikabarkan tengah berada dalam situasi sulit. Ibunda Jupe, Sri Wulansih, bahkan harus mengambil langkah berat dengan menjual apartemen peninggalan sang anak demi melanjutkan kehidupan.

Kesulitan ekonomi yang dialami keluarga ini membuat Sri tak punya banyak pilihan. Properti yang selama ini menjadi salah satu aset berharga peninggalan Jupe kini harus dilepas agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.


Di tengah situasi tersebut, Raffi Ahmad muncul sebagai sosok yang bersedia membantu. Ia mengaku telah menjalin komunikasi langsung dengan Sri dan mempertimbangkan untuk membeli apartemen tersebut.

Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis. Raffi menyebut keputusan tersebut juga didasari oleh kenangan dan amanah yang pernah disampaikan Jupe semasa hidupnya.


Saat masih menjalani perawatan di rumah sakit sebelum wafat pada 2017, Jupe sempat menitipkan pesan kepada Raffi agar menjaga sang ibunda jika suatu saat ia tiada. Pesan itulah yang hingga kini masih diingat oleh Raffi.


"Ya, kami doakan semoga bisa membantu. Karena waktu itu almarhumah Jupe pernah ngomong, waktu di rumah sakit, 'Raffi, Raffi, kalau ada apa-apa sama mama aku, tolong mama gue ya, mama gue ya', kayak gitu," kenang Raffi menirukan ucapan Jupe, dikutip dari Instagram @raffinagita1717, Kamis (16/4/2026).

Menurut Raffi, permintaan tersebut bukan sekadar pesan biasa. Sebagai sahabat, hal itu dinilai sebagai amanah penting yang harus dipenuhi. Raffi pun berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang terdekatnya, baik yang masih ada maupun yang sudah tiada.

"Jadi kalau amanah sahabat yang sudah nggak ada, ataupun yang masih ada saja aku selalu mencoba untuk memberikan yang terbaik. Gitu aja," ujarnya.

Meski berada dalam kondisi yang tidak mudah, keluarga Jupe disebut tetap berupaya tegar menghadapi cobaan. Penjualan apartemen ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi yang dialami

Sumber: inews 

Raffi Ahmad Siap Beli Apartemen Mendiang Julia Perez, Alasannya Mengharukan



Opini Rakyat - Artis Raffi Ahmad mengaku siap membantu keluarga almarhumah Julia Perez (Jupe) yang saat ini sedang mengalami masalah keuangan. Bantuan yang akan diberikan berupa pembelian apartemen milik almarhumah Jupe. 

Keputusan tersebut diambil bukan semata urusan bisnis, melainkan karena alasan emosional yang menyentuh. Apa alasan Raffi siap membeli apartemen almarhumah Julia Perez? 


Suami Nagita Slavina itu mengaku telah berkomunikasi langsung dengan ibunda Jupe, Sri Wulansih, untuk membahas kondisi terkini. Bahkan, komunikasi tersebut dilakukan melalui sambungan telepon hingga video call.

Raffi menjelaskan, keinginannya membantu keluarga Jupe berangkat dari kenangan lama yang hingga kini masih membekas. Dia teringat pesan mendiang sahabatnya itu saat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum meninggal dunia pada 2017.


Dalam kondisi sakit, Jupe sempat menitipkan pesan agar Raffi menjaga sang ibunda jika suatu saat dia tiada. Permintaan itu diakui Raffi bukan hal sepele, melainkan amanah yang harus dijaga.

"Waktu itu Jupe pernah bilang, kalau ada apa-apa tolong jaga mamanya," ujar Raffi mengenang, dikutip dari Instagram @raffinagita1717, Kamis (16/4/2026).


Bagi Raffi, membantu keluarga sahabat adalah bentuk tanggung jawab moral. Dia pun berusaha memenuhi pesan tersebut dengan cara yang bisa dilakukan saat ini, termasuk dengan rencana membeli apartemen peninggalan Jupe.

Menurutnya, amanah dari sahabat yang telah tiada memiliki arti mendalam. Hal itu menjadi pengingat untuk selalu memberikan yang terbaik bagi orang-orang terdekat, baik yang masih hidup maupun yang sudah berpulang.

"Kalau amanah sahabat, apalagi yang sudah nggak ada, pasti diusahakan semaksimal mungkin," katanya

Sumber: inews 

Ditangkap Kejagung, Ternyata Ketua Ombudsman Hery Susanto Baru Menjabat 6 Hari!



Opini Rakyat - Ketua Ombudsman Hery Susanto ditangkap Kejaksaan Agung pada Kamis (16/4/2026). Mirisnya, ia baru dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (10/4/2026) kemarin.

Artinya, belum genap seminggu ia duduk di kursi nomor satu Ombudsman. Meski begitu, belum diketahui penangkapan tersebut terkait kasus apa.


Dari pantauan iNews.id, Hery terlihat memakai kaos berwarna biru muda dan dibalut dengan rompi tahanan khas Kejaksaan. Tangannya juga terborgol, serta dibawa ke mobil tahanan.

Sebelumnya, Prabowo mengambil sumpah jabatan Ketua dan Anggota Ombudsman periode 2026-2031.


Daftar anggota Ombudsman RI 2026-2031:
1. Hery Susanto (Ketua)
2. Rahmadi Indra Tektona (Wakil Ketua)
3. Abdul Ghoffar
4. Fikri Yasin
5. Maneger Nasution
6. Nuzran Joher
7. Partono
8. Robertus Na Endi Jaweng
9. Syafrida Rachmawati Rasahan

Sumber: inews 

155 Siswa di Anambas Keracunan MBG, Orang Tua yang Santap Jatah Anak Ikutan Tumbang

155 Siswa di Anambas Keracunan MBG, Orang Tua yang Santap Jatah Anak Ikutan Tumbang

Opini Rakyat - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, mendadak jadi sorotan setelah 155 siswa dari tingkat PAUD hingga SMP mengalami keracunan massal usai menyantap makanan yang dibagikan.

Tak hanya para siswa, sejumlah orang tua murid juga ikut mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan jatah anak mereka yang dibawa pulang ke rumah.

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (16/4/2026) dan hingga kini masih dalam penanganan pihak rumah sakit serta puskesmas setempat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Anambas, Feri Oktavia, mengatakan sebagian besar siswa sudah mendapat penanganan medis, meski masih ada beberapa yang harus menjalani perawatan lanjutan.

“Untuk kondisi pagi ini, penanganan masih berlangsung di rumah sakit dan puskesmas,” ujar Feri, Kamis (16/4/2026).

Berdasarkan data yang dihimpun, RSUD Palmatak menerima 114 pasien, dengan 110 siswa sudah dipulangkan, sementara 4 siswa masih dirawat.

Sementara itu di Puskesmas Siantan Tengah, tercatat 41 pasien dirawat, dan 15 orang di antaranya masih menjalani perawatan medis.

Feri menjelaskan para siswa yang terdampak berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP, dan bukan berasal dari satu sekolah saja.

Menurutnya, makanan yang dikonsumsi para siswa berasal dari satu penyedia layanan pangan (SPPG) yang mendistribusikan makanan ke beberapa sekolah di wilayah tersebut.

“Bukan dari satu sekolah saja, tapi dari beberapa sekolah berbeda. Makanannya dari satu SPPG,” jelasnya.

Yang mengejutkan, sejumlah orang tua siswa juga ikut keracunan karena turut memakan makanan jatah anak atau cucunya di rumah.

“Ada juga orang tua yang ikut keracunan karena makan jatah anak atau cucunya yang dibawa pulang,” katanya.

Saat ini, penyebab pasti keracunan masih dalam penyelidikan. Sampel makanan telah diamankan dan akan dikirim ke laboratorium di Batam untuk diperiksa lebih lanjut oleh BPOM atau Labkesmas.

Hasil uji laboratorium nantinya akan menentukan sumber utama keracunan dalam insiden yang membuat puluhan siswa dan warga tumbang tersebut.***

Deal Dengan China! Trump Umumkan Selat Hormuz Dibuka Permanen



Opini Rakyat - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembukaan permanen Selat Hormuz setelah sebelumnya sempat diupayakan pemblokadean selama dua hari terakhir. 

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun media sosial pribadinya di Truth Social, Rabu (14/4), Trump menegaskan bahwa langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan global, khususnya stabilitas distribusi energi dunia.

Dalam unggahannya, Trump menulis bahwa keputusan membuka kembali Selat Hormuz dilakukan “demi China dan seluruh dunia”, seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi melakukan upaya pemblokadean terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Ia juga menyebut bahwa China menyambut baik kebijakan itu.


“China sangat senang dengan keputusan ini. Kami melakukannya untuk mereka dan untuk seluruh dunia. Tidak akan ada lagi blokade,” tulis Trump dalam pernyataannya di Truth Social.

Lebih jauh, Trump mengklaim telah terjadi kesepahaman awal dengan Presiden China Xi Jinping terkait situasi kawasan.


Ia menyatakan bahwa Beijing sepakat untuk tidak mengirimkan senjata ke Iran, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak China maupun Iran mengenai klaim tersebut.

“Presiden Xi dan saya telah berbicara, dan mereka memahami situasinya. Saya percaya China tidak akan mengirimkan senjata ke Iran,” lanjut Trump dalam unggahan yang sama.

Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan dinamika yang belum sepenuhnya berubah. 

Meski Washington menyatakan Selat Hormuz telah dibuka, jalur vital tersebut dilaporkan masih berada dalam pengaruh blokade Iran, khususnya terhadap kapal-kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka.



Hal ini menimbulkan ketidakpastian terkait efektivitas pernyataan pembukaan yang disampaikan Trump.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari kawasan Teluk ke pasar global.



Setiap gangguan di wilayah ini hampir selalu berdampak langsung terhadap harga energi internasional serta stabilitas ekonomi global.

Dalam unggahan tersebut, Trump juga menyinggung rencana pertemuan langsung dengan Xi Jinping dalam waktu dekat. 

Ia menekankan bahwa hubungan kerja sama dengan China akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan konfrontasi terbuka.

“Kami akan bertemu segera. Hubungan baik dengan China adalah hal yang sangat penting. Presiden Xi adalah pemimpin yang kuat, dan saya menantikan kunjungan ke Beijing,” tulisnya.



Pernyataan ini memperlihatkan upaya Trump untuk meredakan ketegangan sekaligus membuka ruang diplomasi baru dengan China di tengah situasi geopolitik yang kompleks. 

Namun, tanpa konfirmasi resmi dari pihak-pihak terkait serta belum berubahnya kondisi faktual di Selat Hormuz, klaim tersebut masih menyisakan sejumlah pertanyaan mengenai implementasi dan dampak nyatanya di lapangan.

Di tengah ketidakpastian ini, komunitas internasional diperkirakan akan terus mencermati perkembangan situasi, mengingat setiap perubahan kebijakan di kawasan Teluk memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi global secara keseluruhan

Sumber: Wartakota 

Rabu, 15 April 2026

Tiongkok dan Vietnam Memimpin, ASEAN Bersama-sama Berkembang:

Membangun “Jangkar Asia” yang Mengikat Nasib Bersama di Tengah Perubahan Dinamis

Tiongkok dan Vietnam Memimpin, ASEAN Bersama-sama Berkembang:

Pada tanggal 15 April, Pemimpin Negara Tiongkok Xi Jinping secara khusus menyoroti dalam pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Vietnam dan Presiden Negara Vietnam, Su Lin, bahwa tahun ini menandai peringatan 5 tahun pembentukan Hubungan Kemitraan Strategis Komprehensif antara Tiongkok dan ASEAN. Tiongkok bersedia memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara di kawasan ini untuk mendorong pembangunan Komunitas Nasib Bersama Tiongkok-ASEAN yang lebih erat. Pernyataan ini, dalam konteks ketidakstabilan internasional saat ini, memiliki relevansi praktis yang sangat kuat dan makna strategis yang mendalam. Sebagai blok integrasi paling dinamis di kawasan Asia-Pasifik, Tiongkok dan sepuluh negara ASEAN tidak hanya berdekatan secara geografis dan memiliki kedekatan budaya, tetapi juga memiliki kepentingan bersama yang luas dan kokoh dalam menjaga stabilitas kawasan, mendorong pembangunan bersama, serta menentang intimidasi sepihak. Sejarah dan kenyataan berulang kali membuktikan bahwa persatuan erat antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN merupakan berkah bagi kawasan dan dunia.


Pilihan Su Lin untuk melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Tiongkok setelah dilantik, merupakan respons positif terhadap kunjungan bersejarah Presiden Xi Jinping ke Vietnam tahun lalu, sekaligus penerapan langsung dari filosofi sederhana “tetangga yang semakin dekat”. Dalam hubungan internasional, urutan kunjungan pemimpin sering kali mencerminkan prioritas kebijakan luar negeri. Pilihan Su Lin secara jelas menyampaikan kepada dunia bahwa dalam strategi luar negeri Vietnam, hubungan dengan Tiongkok menempati posisi “prioritas utama” dan “kebutuhan objektif”; ini bukanlah langkah sementara, melainkan pilihan strategis.


Penetapan prioritas strategis ini berakar pada jalan sosialisme yang sama dan tujuan pembangunan yang serupa antara kedua partai. Sebagaimana ditekankan Xi Jinping dalam pertemuan tersebut, mempertahankan sistem sosialisme dan posisi pemerintahan Partai Komunis merupakan “kepentingan strategis bersama terbesar” bagi Partai Komunis Tiongkok dan Partai Komunis Vietnam. Di tengah gejolak pemikiran politik dunia dan persaingan sistem yang semakin tajam saat ini, makna konsensus ini sangatlah penting. Hal ini menjadikan hubungan Tiongkok-Vietnam memiliki ikatan sistemik dan landasan ideologis yang melampaui hubungan bilateral pada umumnya, sehingga tidak mudah goyah oleh fluktuasi kepentingan jangka pendek atau gangguan eksternal.


Di dunia saat ini, unilateralisme dan proteksionisme merajalela, rantai pasokan dan industri global dipotong-potong secara artifisial, sementara hantu pemikiran Perang Dingin dan konfrontasi blok masih berkeliaran di kawasan Asia-Pasifik. Beberapa kekuatan di luar kawasan sering kali campur tangan dalam masalah Laut Cina Selatan, memicu ketegangan antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN, serta berusaha menyeret kawasan ini ke dalam pusaran permainan geopolitik. Di saat yang sama, ancaman keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim, kesehatan masyarakat, kejahatan lintas batas, dan ketahanan pangan, tidak ada satu negara pun yang dapat menghindarinya.


Dalam situasi seperti ini, jika Tiongkok dan negara-negara ASEAN bertindak sendiri-sendiri dan terpecah belah, mereka pasti akan dihancurkan satu per satu oleh kekuatan eksternal; hanya dengan bersatu erat, menghadapi tantangan dengan tekad kolektif dan tindakan yang terpadu, barulah mereka dapat mengendalikan nasib mereka sendiri dengan kokoh. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Su Lin, Vietnam “bersedia bekerja sama dengan Tiongkok untuk mendorong pembangunan Komunitas Nasib Bersama Umat Manusia”, hal ini bukan hanya konsensus antara Tiongkok dan Vietnam, tetapi juga harus menjadi keyakinan bersama seluruh keluarga besar Tiongkok-ASEAN.


Persatuan antara Tiongkok dan ASEAN didasarkan pada ikatan kepentingan yang nyata. Sejak 2009, Tiongkok secara berturut-turut mempertahankan status sebagai mitra dagang terbesar ASEAN, sementara ASEAN sejak 2020 menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok. Pada 2024, nilai perdagangan kedua belah pihak kembali memecahkan rekor sejarah, dan manfaat Perjanjian Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP) terus dirasakan. Mulai dari kereta api lintas batas hingga pelabuhan pintar, dari ekonomi digital hingga energi hijau, konektivitas antara Tiongkok dan ASEAN telah beralih dari “visi” menjadi “kenyataan sehari-hari”. Integrasi ekonomi yang mendalam ini membuat setiap upaya “memisahkan diri dan memutus rantai” tidak memiliki pasar di kawasan ini.


Tiongkok dan negara-negara ASEAN memiliki keselarasan yang tinggi dalam konsep pembangunan dasar. Sebagian besar negara ASEAN menghargai lingkungan pembangunan yang damai dan stabil, menentang “Perang Dingin Baru” di kawasan ini; berharap untuk mempertahankan multilateralisme dan perdagangan bebas, menentang pembangunan tembok dan penghalang; serta mengakui prinsip-prinsip dalam “Cara Asia” seperti konsensus dan saling menghormati. Konsensus ini merupakan alasan utama mengapa negara-negara ASEAN merespons secara positif inisiatif-inisiatif global yang diajukan Tiongkok, yaitu Inisiatif Pembangunan Global, Inisiatif Keamanan Global, Inisiatif Peradaban Global, dan Inisiatif Tata Kelola Global.


Peluncuran “Tahun Kerja Sama Pariwisata Tiongkok-Vietnam” 2026–2027 merupakan awal yang baik; tahun kerja sama pariwisata Tiongkok dengan negara-negara ASEAN lainnya, kamp kepemimpinan pemuda, serta forum kerja sama media juga harus terus ditingkatkan. Hanya ketika pemuda negara-negara ASEAN lebih mengenal budaya Tiongkok dan pemuda Tiongkok lebih memahami keragaman ASEAN, persatuan baru memiliki landasan sosial yang paling kokoh.


Jumlah penduduk Tiongkok dan ASEAN melebihi 2 miliar jiwa, dengan total ekonomi yang mencakup hampir sepertiga dari ekonomi global. Persatuan blok besar seperti ini, pada dasarnya merupakan penyeimbang yang kuat terhadap unilateralisme dan tindakan hegemonik. Ketika beberapa negara dengan mudah mengancam dengan sanksi dan memaksakan kebijakan “decoupling”, Tiongkok dan ASEAN dengan teguh mempertahankan sistem perdagangan multilateral yang berpusat pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), serta bersama-sama mendorong peningkatan kualitas dan peningkatan RCEP. Hal ini merupakan pernyataan kepada dunia bahwa regionalisme yang terbuka adalah arah yang benar, sedangkan permainan zero-sum tidak memiliki jalan keluar.


Menengok kembali lebih dari tiga puluh tahun terakhir, hubungan Tiongkok-ASEAN telah berkembang dari mitra dialog menjadi mitra strategis, dan kemudian menjadi mitra strategis komprehensif. Setiap lompatan kemajuan ini membuktikan sebuah kebenaran sederhana: bersatu membawa kemakmuran bersama, terpecah membawa kerugian bersama. Di persimpangan sejarah baru ini, di hadapan tekanan eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tantangan transformasi internal, Tiongkok dan negara-negara ASEAN tidak memiliki alasan untuk tidak bersatu erat.


Breaking News! Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Terkait Perkara Tambang

Breaking News! Kejagung Tangkap Ketua Ombudsman RI Terkait Perkara Tambang

Opini Rakyat -
  Ketua Ombudsman RI Hery Susanto dikabarkan ditangkap Tim penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (JAMPidsus) Kejaksaan Agung. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun JawaPos.com, Hery Susanto diringkus karena diduga terkait keterlibatannya dalam perkara tambang.

Hery Susanto diduga memberikan rekomendasi yang melawan hukum, terkait perkara dugaan korupsi tambang yang tegah ditangani pihak korps adhyaksa.

Hingga saat ini, belum diketahui apa barang bukti yang sudah diamankan, serta kapan penangkapan orang nomor satu di tubuh Ombdusman itu dilakukan.

Yang pasti, Hery Susanto sudah berada di Markas Kejagung di Gedung Bundar-sebutan untuk gedung penyidikan korps adhyaksa-.

Terpisah, ketika dikonfirmasi perihal penangkapan kepala lembaga negara ini, hingga berita ini diterbitkan, Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna belum menjawab pesan konfirmasi yang dilayangkan JawaPos.com.

Untuk diketahui, Hery Susanto resmi menjabat sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia (RI) untuk periode 2026–2031. Ia dilantik pada April 2026 bersama jajaran anggota baru lainnya oleh Presiden, menggantikan kepengurusan sebelumnya, Mokhammad Najih.

Bocoran Rencana '6 Perang' China: Dunia di Ambang Kiamat Geopolitik?


Opini Rakyat -
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, sebuah narasi lama kembali mencuat ke permukaan: rencana “enam perang” China. Wacana yang sempat beredar lebih dari satu dekade lalu itu kini kembali dibicarakan, seiring eskalasi tekanan Beijing terhadap Taiwan dan meningkatnya kekhawatiran akan konflik besar di kawasan Asia-Pasifik.

Istilah “enam perang” merujuk pada spekulasi mengenai serangkaian konflik yang disebut-sebut akan dihadapi China dalam beberapa dekade ke depan, terutama untuk memperluas pengaruh dan mengamankan sumber daya strategis. Meski tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Beijing, gagasan ini berulang kali muncul dalam diskursus media dan analisis geopolitik internasional.

Dalam konteks terkini, Taiwan menjadi titik paling krusial. Pulau yang diperintah secara demokratis itu dianggap Beijing sebagai bagian dari wilayahnya, dan China tidak pernah menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk melakukan “reunifikasi”. Latihan militer yang kian intens di sekitar Taiwan memperkuat sinyal bahwa ketegangan tidak lagi sekadar retorika, sebagaimana ditulis Victor Biryukov dalam artikel yang dimuat Topwar.ru.

Presiden Taiwan Lai Ching-te bahkan memperingatkan bahwa jika Taiwan jatuh ke China, ambisi ekspansionis Beijing tidak akan berhenti di situ. Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik disebut berpotensi menjadi target berikutnya dalam skenario konflik yang lebih luas.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Jepang telah menyatakan akan mempertimbangkan intervensi militer jika Taiwan diserang, sementara Filipina, yang memiliki hubungan pertahanan erat dengan Amerika Serikat, juga mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan dalam konflik. Jika skenario ini terjadi, maka potensi perang regional yang melibatkan banyak negara menjadi sulit dihindari.

Namun di sisi lain, sejumlah analis menilai China belum berada pada posisi untuk melancarkan konflik besar dalam waktu dekat. Secara ekonomi dan teknologi, Beijing masih berupaya mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Strategi yang selama ini ditempuh lebih condong pada pendekatan hati-hati, memperkuat posisi tanpa memicu konfrontasi langsung.

Pendekatan ini sering disebut sebagai strategi “menunggu di pantai”, sebuah metafora yang menggambarkan sikap China yang memilih mengamati dinamika global sambil terus memperkuat kapasitasnya. Dalam kerangka ini, konflik terbuka dinilai sebagai opsi terakhir, bukan langkah utama.

Meski demikian, skenario konflik tetap tidak bisa diabaikan. Perebutan wilayah seperti Taiwan atau kawasan yang disebut “Tibet Selatan” (Arunachal Pradesh di India), serta potensi ekspansi pengaruh ke Asia Tenggara dan Pasifik, masih menjadi bagian dari perhitungan strategis jangka panjang.

Risiko dari langkah tersebut juga sangat besar. Konflik terbuka berpotensi memicu isolasi internasional terhadap China, mengganggu stabilitas ekonomi, serta memperlambat pertumbuhan yang selama ini menjadi kekuatan utama Beijing. Bahkan, dalam skenario terburuk, tekanan eksternal dapat memicu perubahan internal yang signifikan dalam sistem pemerintahan China.

Pertanyaan besar lainnya adalah bagaimana Amerika Serikat akan merespons jika konflik benar-benar pecah. Sebagai kekuatan global yang memiliki kepentingan strategis di kawasan Indo-Pasifik, Washington hampir pasti tidak akan tinggal diam.

Respons AS akan sangat bergantung pada dinamika politik domestiknya saat itu, namun potensi keterlibatan militer tetap terbuka lebar.

Di tengah semua ketidakpastian ini, satu hal menjadi jelas: Taiwan bukan sekadar isu regional, melainkan titik temu berbagai kepentingan global. Apa yang terjadi di sana dapat menjadi pemicu perubahan besar dalam tatanan dunia.

Apakah “rencana enam perang” benar-benar ada atau hanya mitos geopolitik, masih menjadi perdebatan. Namun yang pasti, meningkatnya ketegangan di sekitar Taiwan menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju fase baru, di mana batas antara kompetisi dan konflik semakin tipis.

Bagi kawasan Asia dan dunia, pertanyaannya kini bukan lagi apakah konflik mungkin terjadi, melainkan seberapa jauh dampaknya jika skenario terburuk itu benar-benar menjadi kenyataan.

Dalam lanskap yang lebih luas, ketegangan di sekitar Taiwan juga berkaitan erat dengan perebutan dominasi teknologi global. Taiwan merupakan pusat produksi semikonduktor dunia, yang menjadi tulang punggung industri modern, mulai dari ponsel hingga sistem pertahanan, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Siapa pun yang menguasai Taiwan, pada dasarnya memiliki pengaruh besar terhadap rantai pasok teknologi global.

Faktor inilah yang membuat konflik Taiwan tidak bisa dilihat sebagai isu bilateral semata. Ia adalah simpul dari kepentingan ekonomi, militer, dan teknologi yang saling bertaut. Tidak mengherankan jika Amerika Serikat dan sekutunya terus memperkuat posisi di kawasan Indo-Pasifik sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi.

Di sisi lain, China juga terus memperluas pengaruhnya melalui pendekatan non-militer, seperti investasi infrastruktur dan kerja sama ekonomi dengan negara-negara berkembang. Strategi ini memperlihatkan bahwa Beijing tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga kekuatan ekonomi sebagai alat ekspansi pengaruh.

Namun pendekatan ganda ini, antara tekanan militer dan diplomasi ekonomi, justru menciptakan ambiguitas. Di satu sisi, China berbicara tentang perdamaian dan kerja sama. Di sisi lain, aktivitas militernya di sekitar Taiwan dan Laut China Selatan terus meningkat, memicu kekhawatiran negara-negara tetangga.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dunia saat ini berada dalam fase “grey zone conflict” atau konflik abu-abu, situasi di mana persaingan berlangsung tanpa deklarasi perang secara resmi, tetapi dengan intensitas tekanan yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, batas antara damai dan konflik menjadi semakin kabur.

Bagi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dinamika ini menuntut kewaspadaan sekaligus keseimbangan diplomasi. Kawasan ini tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berpotensi terdampak langsung, baik dari sisi ekonomi maupun keamanan.

Di tengah kompleksitas tersebut, penting bagi komunitas internasional untuk menjaga ruang dialog tetap terbuka. Sejarah menunjukkan bahwa konflik besar sering kali dipicu oleh kegagalan komunikasi dan meningkatnya salah persepsi antarnegara.

Masa depan kawasan Indo-Pasifik akan sangat ditentukan oleh bagaimana para aktor utama, China, Amerika Serikat, dan sekutunya, mengelola rivalitas mereka. Apakah akan mengarah pada kompetisi yang terkendali, atau justru meluncur menjadi konflik terbuka, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab hingga hari ini.

MBS Tekan AS Cabut Blokade Selat Hormuz, Takut Pembalasan Iran terhadap Saudi

MBS Tekan AS Cabut Blokade Selat Hormuz, Takut Pembalasan Iran terhadap Saudi

Opini Rakyat - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan telah menekan Amerika Serikat (AS) untuk mencabut blokadenya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Dia takut ancaman pembalasan Iran untuk memblokade Laut Merah bisa melumpuhkan ekonomi Kerajaan Arab Saudi.

Laporan itu diterbitkan The Telegraph pada hari Rabu (15/4/2026), mengutip para diplomat Teluk. Menurut laporan tersebut, Riyadh juga menekan Washington untuk mengurangi perang di Timur Tengah.

Para diplomat Teluk mengatakan Pangeran MBS ingin Presiden AS Donald Trump kembali ke negosiasi.

Lobi Arab Saudi mencerminkan kekhawatiran di Riyadh bahwa Teheran akan membalas blokade AS dengan menginstruksikan sekutu Houthi-nya di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, sebuah titik rawan di Laut Merah yang dilalui sebagian besar pasokan minyak kerajaan.

Pergeseran mendadak oleh satu-satunya negara Arab yang bersikap keras terhadap Iran—pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal dan dikonfirmasi kepada The Telegraph oleh dua pejabat Teluk—muncul di tengah meningkatnya kecemasan regional tentang penanganan perang oleh Trump.

Meskipun negara-negara Teluk telah mendesak presiden AS untuk tidak berperang, Arab Saudi—setidaknya secara pribadi—merupakan pengecualian. Setelah serangan udara AS pada Juni tahun lalu terhadap fasilitas nuklir Iran, Pangeran MBS dilaporkan telah meninggalkan sikap menahan diri sebelumnya, dengan menyimpulkan bahwa Teheran hanya akan semakin kuat kecuali dikalahkan di medan perang.

Dia dilaporkan bergabung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk merebut apa yang mereka anggap sebagai peluang bersejarah untuk memberikan kekalahan abadi kepada Iran dan membentuk kembali Timur Tengah—pandangan yang tidak dianut oleh negara-negara Teluk lainnya.

Toleransi Arab Saudi yang lebih besar terhadap risiko sebagian berakar pada letak geografisnya. Tidak seperti negara-negara tetangganya, Arab Saudi memiliki dua garis pantai: Teluk Persia dan Laut Merah.

Setelah Iran menutup Selat Hormuz, Arab Saudi mengalihkan sebagian besar ekspor minyak mentahnya dari Ras Tanura di Teluk ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui pipa timur-barat sepanjang 750 mil.

Ekspor kini mendekati level sebelum perang, yaitu 7 juta barel per hari, yang membantu menstabilkan harga minyak dan melindungi kerajaan dari dampak terburuk yang dirasakan oleh negara-negara tetangga yang lebih kecil. Ekonomi Qatar dan Kuwait diperkirakan akan menyusut sebesar 14 persen tahun ini. Arab Saudi menghadapi kontraksi yang masih menyakitkan tetapi lebih terkendali, yaitu 3 persen.

Namun, ketahanan itu dapat runtuh jika Houthi—milisi yang didukung Iran yang mengendalikan Yaman utara— kembali menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah atau mencoba menguasai Bab al-Mandeb, yang dikenal sebagai "Gerbang Air Mata". Bahkan satu serangan yang berhasil pun dapat mencegah pemilik kapal mengirimkan kapal tanker ke Yanbu, yang berpotensi memicu kekacauan di pasar energi global.

Sekitar dua pertiga ekspor minyak mentah Arab Saudi ditujukan untuk kilang-kilang di Asia berdasarkan kontrak jangka panjang. Mengalihkan rute ke utara melalui Terusan Suez sebagian besar tidak praktis. Kapal-kapal super besar, khususnya kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar, berada terlalu dalam di perairan untuk transit dengan muatan penuh, dan alternatifnya dapat menambah waktu perjalanan hingga 29 hari.

Seberapa serius ancaman Houthi masih belum jelas. Iran sebelumnya mengisyaratkan bahwa mereka dapat mengaktifkan sekutunya “dengan satu sinyal”.

Houthi memiliki sejarah serangan semacam itu. Antara tahun 2023 hingga tahun lalu, mereka melakukan 190 serangan terhadap kapal dagang, menenggelamkan dua kapal dan menangkap satu kapal lainnya. Lalu lintas di Laut Merah turun lebih dari 60 persen.

Kekuatan tempur mereka sejak itu telah berkurang akibat ratusan serangan udara AS dan Inggris terhadap situs rudal, dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris mengawal puluhan kapal melalui selat di bawah tembakan. Sementara itu, serangan Israel telah melenyapkan sebagian besar komando tinggi Houthi, termasuk serangan Agustus lalu yang menewaskan 12 tokoh senior, di antaranya Ahmed al-Rahawi, perdana menteri Houthi.

Meskipun demikian, beberapa analis percaya bahwa kelompok tersebut masih memiliki kemampuan untuk melancarkan kampanye maritim yang mengganggu, tetapi apakah mereka akan menuruti permintaan dari Iran masih belum pasti.

Itulah pandangan di antara sisa-sisa Dewan Transisi Selatan (STC), sebuah gerakan separatis yang didukung Uni Emirat Arab di Yaman selatan.

Selama lebih dari satu dekade, STC dipandang sebagai kekuatan paling efektif dalam melawan Houthi di lapangan. Namun Arab Saudi, yang mendukung milisi saingan, memaksa gerakan tersebut untuk bubar pada bulan Januari setelah melumpuhkannya dengan serangan udara yang menghentikan serangan STC di Yaman timur. Keputusan tersebut meninggalkan kekosongan strategis yang mungkin akan kembali menghantui Riyadh.

Tokoh-tokoh senior dalam gerakan yang kini sebagian besar beroperasi di bawah tanah tersebut mengatakan bahwa, meskipun mereka tidak tahu apakah Houthi berencana untuk melanjutkan serangan, mereka hampir pasti mampu melakukannya.

Amr al-Bidh, perwakilan khusus presiden STC, mengatakan: “Kondisi untuk melanjutkan serangan terhadap kapal sekarang lebih permisif daripada kapan pun sejak tahun 2023."

“Arsitektur pasukan darat yang sebelumnya membatasi operasi pesisir mereka telah dihapus. Jika mereka bertindak, kemampuan untuk merespons dari dalam Yaman sama sekali tidak ada seperti sebelumnya," ujarnya.

Apakah Putra Mahkota MBS—yang pernah menganjurkan moderasi terhadap Iran dalam upaya untuk menampilkan Timur Tengah sebagai mercusuar stabilitas—kini menyesali sikap kerasnya di masa lalu masih belum jelas.

Di seluruh kawasan, taruhan negara-negara Teluk pada Trump tampaknya mulai memburuk. Menyambut kembalinya Trump ke Gedung Putih, mereka meningkatkan produksi minyak, menjanjikan investasi AS senilai triliunan dolar, menjamunya dengan mewah, dan dalam kasus Qatar, bahkan memberinya pesawat Boeing 747 mewah untuk menggantikan Air Force One.

Kemurahan hati seperti itu dimaksudkan untuk mengamankan perlindungan Amerika dan menjamin stabilitas. Sebaliknya, beberapa pejabat mengeluh, Trump telah membakar Timur Tengah.

Tidak akan ada perpecahan. Putra Mahkota MBS tidak akan mengakui penyesalannya di depan umum. Tetapi kebijakan Arab Saudi terhadap Iran kemungkinan akan bergeser ke arah kehati-hatian, kata para pejabat Teluk.

Kerajaan Arab Saudi mampu menahan satu blokade. Mereka telah menolak blokade kedua karena takut hal itu dapat memicu blokade ketiga, dengan biaya yang terlalu tinggi bahkan untuk negara penghasil minyak terkuat sekalipun.

Longsor Bukik Malalo Tutup Aliran Sungai, Warga Tanah Datar Khawatir Banjir Bandang



Opini Rakyat - - Longsor yang terjadi di kawasan Bukik Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, beberapa hari lalu, menutup aliran Sungai Banda Kulo yang bermuara di Muaro Samuik, Nagari Padang Laweh. Material longsor menimbun aliran sungai dengan ketinggian mencapai sekitar 15 meter. 

Kondisi ini menyebabkan terbentuknya genangan air di sekitar titik longsoran yang berpotensi memicu banjir bandang. Warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai, khususnya di wilayah Muaro Samuik, kini dihantui kekhawatiran akan bencana susulan. 


Mereka mengingat peristiwa banjir bandang dan longsor yang terjadi beberapa bulan lalu. Sejumlah warga berupaya membersihkan material longsor menggunakan peralatan seadanya. 

Namun, mereka berharap pemerintah segera menurunkan alat berat untuk mempercepat proses normalisasi aliran sungai. Warga khawatir, jika aliran air tetap tersumbat, genangan tersebut dapat jebol sewaktu-waktu dan mengancam keselamatan permukiman di hilir.


Menindaklanjuti laporan warga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar langsung merespons dengan berkoordinasi dalam penanganan di lokasi.

Pemerintah juga mengimbau warga yang tinggal di sekitar muara sungai untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta menjauhi aliran sungai dan segera mengungsi ke tempat aman apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

"Hari ini alat berat dari BKSDA provinsi akan diturunkan. Kami tidak hentinya mengimbau warga yang tinggal di bawah agar waspada dan segera mengungsi ketika hujan lebat untuk menjauhi badan sungai," ujar Bupati Tanah Datar, Eka Putra, Kamis (16/4/2026).

Langkah tersebut diambil sebagai upaya mengantisipasi potensi banjir bandang sebelum material longsor berhasil dibersihkan secara menyeluruh

Sumber: inews 

Viral Video Israel Diserang Jutaan Lebah, Mengerikan!



Opini Rakyat - Viral di media sosial video memperlihatkan jutaan lebah menyerang kota di Israel. Fenomena langka ini langsung menjadi pembahasan hangat di jagat maya.

Mengacu pada unggahan akun X @Breaking911, jutaan lebah itu mengepung satu kawasan, berterbangan di luar ruangan membuat penduduk setempat takut. Kerumunan lebah ini membuat warga Israel tidak bisa keluar rumah.


"Puluhan ribu lebah tiba-tiba menyerbu beberapa bagian Israel, mendorong pihak berwenang untuk memperingatkan warga dan pemilik toko agar menutup pintu dan jendela," ungkap akun tersebut di keterangan cuitan, dikutip Kamis (16/4/2026).

Video ini telah ditonton 14,2 juta di X, memicu perdebatan panas di media sosial. Beberapa netizen menyebut fenomena ini sebagai hukuman dari Tuhan atas apa yang telah diperbuat Israel terhadap Gaza dan Lebanon.


Sementara itu, akun X @pubity menunjukkan foto yang lebih mengerikan. Kerumunan lebah tidak hanya beterbangan di udara, tapi juga menempati beberapa mobil milik warga. Lebah-lebah itu berkomunal untuk mengepung mobil.

Dari keterangan akun tersebut, fenomena serangan lebah ini terjadi di bagian selatan Israel. Masyarakat tidak ada yang berani keluar rumah karena begitu banyaknya lebah yang beterbangan di udara.


Hingga berita ini dibuat, belum diketahui pasti apa penyebab Israel diserang lebah secara tiba-tiba. Beberapa netizen juga menduga video viral itu konten AI, meski netizen lain menilai kecil kemungkinan kalau itu adalah konten AI

Sumber: inews